Jumat, 07 Maret 2025

Model-Model Retorika

 Model-Model Retorika

A. Pendahuluan

a. Latar Belakang

Retorika, sebagai seni persuasi, telah memainkan peran penting dalam peradaban manusia sejak zaman kuno. Kemampuan untuk menyampaikan pesan dengan efektif dan meyakinkan sangatlah penting dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari politik, bisnis, hingga interaksi sosial sehari-hari. Seiring perkembangan zaman, berbagai model retorika telah dikembangkan untuk memahami dan meningkatkan efektivitas komunikasi.

Makalah ini bertujuan untuk mengkaji dan membandingkan berbagai model retorika yang ada, mulai dari model klasik yang dikembangkan oleh Aristoteles hingga model-model modern yang lebih kontekstual. Dengan memahami berbagai model ini, diharapkan kita dapat memperoleh wawasan yang lebih mendalam tentang bagaimana retorika bekerja dan bagaimana kita dapat menggunakannya secara lebih efektif dalam berbagai situasi.

b. Rumusan Masalah

1. Apa Definisi Retorika?

2. Bagaimana Sejarah Retorika?

3. Apa saja Model-Model  Retorika?

4. Apa Fungsi Retorika?

c. Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk:

  • Mendeskripsikan berbagai model retorika yang ada, baik model klasik maupun model modern.
  • Membandingkan dan menganalisis kekuatan dan kelemahan dari masing-masing model.
  • Mengidentifikasi konteks di mana masing-masing model retorika paling efektif digunakan.
  • Memberikan contoh penerapan model-model retorika pada situasi nyata.

B. Pembahasan

 a. Pengertian Retorika

Retorika adalah seni atau keterampilan berbicara atau menulis secara efektif, terutama untuk membujuk atau mempengaruhi orang lain. Berikut adalah beberapa aspek penting dari pengertian retorika:

  • Seni Persuasi:
    • Retorika sering dianggap sebagai seni persuasi, yaitu kemampuan untuk meyakinkan orang lain melalui penggunaan bahasa yang efektif.
    • Ini melibatkan penggunaan berbagai teknik dan strategi untuk mempengaruhi pemikiran, emosi, dan tindakan audiens.
  • Keterampilan Berbahasa:
    • Retorika mencakup keterampilan dalam menggunakan bahasa secara efektif, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.
    • Ini melibatkan pemahaman tentang tata bahasa, gaya bahasa, dan teknik-teknik penyampaian pesan.
  • Tujuan Komunikasi:
    • Retorika memiliki tujuan untuk mencapai efek tertentu pada audiens, seperti membujuk, menginformasikan, atau menghibur.
    • Tujuan ini mempengaruhi pemilihan kata, struktur kalimat, dan gaya penyampaian.
  • Konteks dan Audiens:
    • Retorika menekankan pentingnya mempertimbangkan konteks dan audiens dalam komunikasi.
    • Pesan yang efektif harus disesuaikan dengan situasi dan karakteristik audiens yang dituju.

 Menurut Aristoteles Retorika adalah kemampuan untuk mengamati dalam setiap kasus alat persuasi yang tersedia. Ini menekankan pada identifikasi dan penggunaan strategi persuasif yang sesuai dengan situasi. Dalam Konteks Modern Retorika dapat diartikan sebagai studi tentang bagaimana simbol-simbol (terutama bahasa) digunakan untuk mempengaruhi pemikiran dan tindakan manusia. Ini mencakup analisis tentang bagaimana pesan-pesan dibangun, disampaikan, dan diterima dalam berbagai konteks. Retorika tidak hanya tentang berbicara dengan indah, tetapi juga tentang menggunakan bahasa secara strategis untuk mencapai tujuan. Retorika melibatkan pemahaman tentang audiens, konteks, dan tujuan komunikasi. Retorika mencakup berbagai teknik dan strategi, seperti penggunaan logika, emosi, dan kredibilitas.

b. Sejarah Retorika

Sejarah retorika mencakup perkembangan seni berbicara dan berargumentasi yang berfokus pada cara membujuk atau mempengaruhi audiens. Secara historis, retorika telah melalui beberapa periode penting, dimulai dari zaman kuno hingga era modern. Berikut adalah perjalanan sejarah retorika:

1. Zaman Kuno (Yunani dan Romawi)

  • Retorika di Yunani Kuno (500–300 SM)
    Retorika pertama kali berkembang di Yunani pada abad ke-5 SM, seiring dengan pertumbuhan demokrasi di Athena yang mendorong pentingnya kemampuan berbicara di depan umum. Tokoh-tokoh penting di Yunani seperti:

    • Gorgias (sekitar 485–380 SM), yang dikenal sebagai orator pertama yang mengajarkan retorika sebagai seni persuasi.
    • Isocrates (436–338 SM), yang menganggap retorika sebagai sarana pendidikan untuk membentuk karakter dan kepemimpinan.
    • Plato (427–347 SM), yang mengkritik retorika sebagai bentuk manipulasi, meskipun ia juga mengakui pentingnya logika dalam berbicara persuasif dalam karyanya Phaedrus.
    • Aristotle (384–322 SM), yang merumuskan teori retorika lebih sistematis dalam karyanya Rhetoric, membahas tiga unsur utama: ethos (karakter pembicara), pathos (emosi audiens), dan logos (logika atau argumen).
  • Retorika di Romawi Kuno
    Di Romawi, retorika berkembang lebih lanjut, dan banyak orator Romawi yang berpengaruh, seperti:

    • Cicero (106–43 SM), yang memandang retorika sebagai bagian penting dari pendidikan untuk kepemimpinan dan negara.
    • Quintilian (35–100 M), yang menulis Institutio Oratoria, sebuah panduan untuk menjadi orator ideal, menekankan pada pendidikan moral dan teknik berbicara yang baik.

2. Abad Pertengahan (500–1500 M)

Pada abad pertengahan, retorika terfokus pada penggunaan dalam konteks keagamaan dan pendidikan. Setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi, banyak karya-karya retorika klasik dipelajari dalam gereja dan universitas. Retorika digunakan untuk menyampaikan ajaran-ajaran Kristen dan untuk mempengaruhi audiens dalam konteks keagamaan.

3. Renaissance (Abad ke-14 hingga ke-17)

Pada masa Renaisans, terjadi kebangkitan minat terhadap pengetahuan klasik, termasuk retorika. Pemikir-pemikir seperti Petrarch dan Erasmus menghidupkan kembali karya-karya Plato, Aristotle, dan Cicero. Di Eropa, orator dan penulis kembali mengembangkan teori-teori baru tentang persuasi dan seni berbicara.

4. Abad Modern (Abad ke-18 hingga ke-19)

Selama Pencerahan dan revolusi industri, retorika mulai diperkenalkan dalam konteks pendidikan umum dan lebih diarahkan pada bidang politik dan komunikasi massa. Retorika menjadi alat penting dalam demokrasi dan sistem politik, dengan pidato-pidato politik yang berpengaruh pada publik.

  • George Campbell (1719–1796), seorang filsuf Skotlandia, mengembangkan teori retorika berdasarkan psikologi manusia dalam The Philosophy of Rhetoric.
  • Immanuel Kant dan Johann Gottfried Herder juga berkontribusi pada perkembangan pemikiran komunikasi dan argumen.

5. Era Kontemporer (Abad ke-20 hingga sekarang)

Pada abad ke-20 dan 21, retorika meluas ke berbagai disiplin ilmu, termasuk komunikasi massa, politik, periklanan, dan media sosial. Pengaruh retorika semakin terasa dalam strategi pemasaran, politik, dan media digital. Banyak yang mempelajari bagaimana pesan disampaikan dan bagaimana audiens dipengaruhi, baik dalam pidato, iklan, maupun media sosial.

  • Retorika dalam media sosial semakin dominan, di mana teks, gambar, dan video digunakan untuk mempengaruhi opini publik dan membentuk persepsi.
  • Di dunia pendidikan, retorika tetap menjadi bidang studi yang penting dalam melatih keterampilan komunikasi dan argumentasi.
c. Model-Model Retorika 

Dalam retorika, terdapat beberapa model atau pendekatan yang digunakan untuk memahami dan mengajarkan cara berkomunikasi secara efektif. Berikut adalah beberapa model retorika yang paling penting:

1. Model Klasik (Aristotelian)

Model ini adalah salah satu yang paling awal dan sistematis, yang diperkenalkan oleh Aristotle dalam karyanya Rhetoric. Menurut model ini, retorika memiliki tiga elemen utama yang digunakan untuk mempengaruhi audiens:

  • Ethos: Karakter atau kredibilitas pembicara. Agar efektif, pembicara harus memiliki reputasi yang baik dan dapat dipercaya oleh audiens.
  • Pathos: Pengaruh terhadap emosi audiens. Pembicara menggunakan elemen ini untuk menggerakkan perasaan audiens, baik itu simpati, kemarahan, atau kegembiraan.
  • Logos: Logika atau argumen rasional. Pembicara menggunakan bukti, data, dan alasan untuk mendukung klaim atau argumennya, dengan tujuan meyakinkan audiens secara rasional.

2. Model Toulmin

Stephen Toulmin mengembangkan model ini pada abad ke-20. Model ini lebih fokus pada struktur argumen, yang terdiri dari enam elemen:

  • Claim (Klaim): Pernyataan atau argumen yang ingin diajukan.
  • Grounds (Dasar): Bukti atau alasan yang mendukung klaim.
  • Warrant (Jaminan): Prinsip atau aturan yang menghubungkan dasar dengan klaim.
  • Backing (Dukungan): Dukungan lebih lanjut terhadap jaminan yang digunakan untuk mendukung klaim.
  • Qualifier (Pembatas): Penjelasan tentang sejauh mana klaim dapat diterima (misalnya, "mungkin", "biasanya").
  • Rebuttal (Tantangan): Kemungkinan keberatan atau pembantahan terhadap klaim yang diangkat.

Model Toulmin sering digunakan untuk membangun dan menganalisis argumen dalam berbagai konteks, termasuk debat dan diskusi akademik.

3. Model Perpaduan (Bitzer)

Lloyd Bitzer dalam teorinya tentang "Situasi Retoris" berpendapat bahwa retorika terjadi sebagai respons terhadap situasi tertentu. Model ini fokus pada situasi retoris yang memicu komunikasi. Bitzer mengidentifikasi tiga elemen utama dalam model ini:

  • Exigence: Masalah atau kebutuhan yang memerlukan respons retoris. Tanpa exigence, tidak ada alasan untuk berbicara.
  • Audience: Audiens yang memiliki kapasitas untuk merespons atau bertindak atas pesan yang disampaikan.
  • Constraints: Batasan atau hambatan yang ada dalam situasi komunikasi, seperti waktu, tempat, atau norma-norma sosial yang memengaruhi cara pesan disampaikan.

Bitzer menekankan bahwa retorika adalah hasil dari interaksi antara ketiga elemen ini, dan pembicara harus menanggapi situasi tertentu untuk menciptakan komunikasi yang efektif.

4. Model Pentadic (Kenneth Burke)

Kenneth Burke mengembangkan model "pentadic" yang terdiri dari lima elemen yang membentuk situasi komunikasi:

  • Act (Aksi): Apa yang dilakukan dalam situasi tersebut.
  • Scene (Latar): Dimana dan kapan aksi tersebut terjadi.
  • Agent (Agen): Siapa yang melakukan aksi tersebut.
  • Agency (Alat): Alat atau cara yang digunakan untuk melakukan aksi.
  • Purpose (Tujuan): Mengapa aksi tersebut dilakukan (tujuan dari tindakan tersebut).

Model pentadic digunakan untuk menganalisis situasi retoris secara mendalam dan membantu pembicara atau penulis memahami konteks mereka dengan lebih baik.

5. Model Kontekstual (Rhetoric as Social Action)

Model ini berfokus pada retorika sebagai tindakan sosial, yang menganggap bahwa retorika berfungsi untuk membentuk dan mengubah hubungan sosial. Mikhail Bakhtin dan Jürgen Habermas berkontribusi pada model ini, yang menekankan pentingnya dialog dan interaksi sosial dalam proses komunikasi. Retorika dalam konteks ini dianggap sebagai cara untuk membangun pemahaman bersama dalam masyarakat.

6. Model Retorika Visual

Dengan perkembangan media digital dan visual, retorika visual menjadi lebih penting. Model ini berfokus pada penggunaan gambar, desain, dan simbol untuk menyampaikan pesan yang persuasif. Roland Barthes dan tokoh lain dalam teori semiotika melihat bagaimana gambar dan visual dapat digunakan untuk membentuk pemahaman atau mengubah sikap audiens. Dalam retorika visual, elemen-elemen seperti warna, komposisi gambar, dan ikonografi memiliki kekuatan yang sangat besar dalam membujuk audiens.

7. Model Retorika Digital

Dengan munculnya media sosial dan internet, retorika digital kini menjadi bidang studi yang sangat relevan. Model ini mengkaji bagaimana pesan-pesan persuasif disampaikan melalui platform digital seperti media sosial, blog, dan video online. Retorika digital melibatkan teknik seperti penggunaan meme, video viral, dan algoritma untuk mempengaruhi audiens secara luas.

D. Fungsi Retorika

Retorika memiliki berbagai fungsi yang sangat penting dalam komunikasi, baik dalam berbicara maupun menulis. Berikut adalah beberapa fungsi utama retorika:

1. Persuasi (Membujuk)

Salah satu fungsi utama retorika adalah untuk membujuk atau mempengaruhi audiens agar mereka menerima suatu pendapat, ide, atau melakukan suatu tindakan. Melalui penggunaan argumen yang kuat, emosi, dan kredibilitas pembicara (ethos, pathos, logos), retorika dapat mengubah cara berpikir atau bertindak audiens. Fungsi ini sering digunakan dalam pidato politik, iklan, kampanye, dan presentasi.

2. Menyampaikan Informasi

Retorika juga digunakan untuk menyampaikan informasi atau mendefinisikan suatu hal. Dalam hal ini, retorika tidak hanya digunakan untuk membujuk, tetapi juga untuk menjelaskan suatu topik atau memberikan pemahaman yang jelas kepada audiens. Misalnya, seorang pembicara atau penulis dapat menggunakan retorika untuk mengedukasi audiens tentang suatu isu atau peristiwa tertentu.

3. Memotivasi dan Menggerakkan Tindakan

Salah satu tujuan utama retorika adalah memotivasi audiens untuk bertindak atau melakukan sesuatu. Dalam konteks ini, retorika digunakan untuk mendorong perubahan perilaku, seperti dalam pidato yang bertujuan menginspirasi tindakan sosial atau politik. Misalnya, kampanye amal atau gerakan sosial sering memanfaatkan retorika untuk mendorong audiens agar berpartisipasi atau memberikan dukungan.

4. Membangun atau Menjaga Kredibilitas

Membangun kredibilitas pembicara adalah fungsi penting lainnya dari retorika. Seorang pembicara harus meyakinkan audiens bahwa mereka dapat dipercaya dan memiliki otoritas untuk berbicara tentang suatu topik. Kredibilitas ini dapat dibangun melalui penggunaan ethos, yang menekankan kualitas moral dan pengetahuan pembicara. Dalam politik, hukum, atau dunia profesional lainnya, kredibilitas adalah kunci untuk mempengaruhi audiens.

5. Membentuk Opini Publik

Retorika berfungsi untuk membentuk opini publik, dengan memengaruhi persepsi masyarakat terhadap suatu isu, kebijakan, atau tokoh. Misalnya, dalam debat politik atau media massa, retorika digunakan untuk mengarahkan pendapat publik dan membentuk pandangan masyarakat terhadap suatu topik. Ini sangat penting dalam dunia politik dan periklanan.

6. Menciptakan Hubungan Sosial

Retorika juga berfungsi untuk membangun dan memelihara hubungan sosial. Dalam interaksi sehari-hari, komunikasi yang efektif, baik itu dengan keluarga, teman, atau rekan kerja, sering kali melibatkan unsur-unsur retorika. Kemampuan untuk berbicara secara persuasif dan mengkomunikasikan ide dengan baik membantu mempererat hubungan sosial dan memfasilitasi kolaborasi.

7. Menegosiasikan dan Menyelesaikan Konflik

Retorika memiliki peran penting dalam menyelesaikan konflik atau negosiasi. Dalam situasi konflik, retorika digunakan untuk menemukan solusi yang dapat diterima oleh semua pihak yang terlibat. Teknik-teknik retorika seperti penyusunan argumen yang logis (logos), pengendalian emosi (pathos), dan penguatan kredibilitas (ethos) sangat penting dalam mencapai kesepakatan.

8. Menghibur

Selain untuk membujuk atau menginformasikan, retorika juga berfungsi untuk menghibur audiens. Dalam konteks ini, retorika digunakan dalam pidato humor, pertunjukan, sastra, dan seni untuk menghibur audiens atau menciptakan pengalaman emosional yang menyenangkan. Retorika yang menghibur sering kali menggunakan bahasa yang penuh imajinasi, permainan kata, atau cerita yang menarik.

9. Menunjukkan Kekuatan dan Keunggulan

Retorika juga digunakan untuk menunjukkan kekuatan atau keunggulan seseorang atau kelompok dalam suatu konteks. Dalam hal ini, retorika berfungsi untuk memperkuat posisi seseorang atau kelompok dalam diskusi atau debat. Misalnya, dalam debat politik atau kompetisi publik, seorang pembicara menggunakan retorika untuk menunjukkan superioritas ide atau argumen mereka.

10. Menyusun dan Mempertajam Pemikiran

Retorika membantu seseorang untuk menyusun dan mempertajam pemikiran mereka tentang suatu masalah. Melalui penyusunan argumen dan penggunaan struktur retorika yang baik, seseorang dapat mengklarifikasi dan mengembangkan ide-idenya secara lebih mendalam. Ini sering digunakan dalam konteks akademis dan intelektual.

 

C. Penutup 

Model-model retorika yang telah dijelaskan memberikan gambaran yang lebih luas tentang bagaimana komunikasi persuasif bekerja dalam berbagai konteks. Setiap model memiliki kekuatan tersendiri dan bisa diterapkan secara berbeda, tergantung pada situasi, tujuan, dan audiens. Pemahaman yang mendalam tentang model-model ini sangat penting bagi siapa pun yang ingin meningkatkan kemampuan berbicara, menulis, dan berkomunikasi secara efektif, baik dalam konteks akademik, sosial, politik, atau bisnis.

Dengan demikian, retorika tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk membujuk, tetapi juga sebagai sarana untuk membentuk opini, membangun hubungan sosial, dan mengatasi masalah dalam masyarakat. Pemahaman terhadap berbagai model retorika memberikan fondasi yang kuat untuk menjadi komunikator yang lebih terampil dan persuasif.

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 21 Desember 2024

PENGERTIAN RUANG LINGKUP BAHASAN DAN URGENSI DASAR-DASAR PENDIDIKAN ISLAM, PENGERTIAN DASAR-DASAR PENDIDIKAN ISLAM

 

PENGERTIAN RUANG LINGKUP BAHASAN DAN URGENSI DASAR-DASAR PENDIDIKAN ISLAM, PENGERTIAN DASAR-DASAR PENDIDIKAN ISLAM

DALAM MATA KULIAH DASAR-DASAR PENDIDIKAN ISLAM

UNIVERSITAS PANGERAN DIPONEGORO NGANJUK, JAWA TIMUR, INDONESIA

Korespondensi penulis : maulanaagisna190305@gmail.com

 

Abstrak: This article will discuss the importance of education based on the Islamic religion. Islamic education is the most important part in an era like this, especially for the current generations. Of course, Islamic education requires comprehensive activities in the process. Islamic education covers everything about Islamic values ​​with the aim of creating people who behave positively, and can be a provision in society.

Keywords: Islamic Education, scope and objectives of Islamic Education

 

Abstrak: Artikel ini akan membahas tentang pentingnya Pendidikan dalam berbasis agama islam. Pendidikan islam menjadi bagian terpenting di-era seperti ini, khususnya bagi generasi-generasi sekarang. Tentunya dalam Pendidikan islam perlu kegiatan yang komprehensif dalam prosesnya. Pendidikan Islam mencakup segala sesuatu tentang nilai-nilai keislaman dengan tujuan menciptakan manusia yang berperilaku positif, dan dapat menjadi bekal dalam bermasyarakat.

Kata kunci: Pendidikan Islam, ruang lingkup dan tujuan Pendidikan Islam

 

PEMBAHASAN

Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas daya manusia yang ada perkembangan zaman yang begitu maju sekarang ini tidak berarti sama sekali jika tidak ditunjang oleh sumber daya manusia yang berkualitas (Jeane Mantiri, 2019:20). Menciptakan manusia berkualitas membutuhkan suatu Pendidikan yang bermoral dengan ketentuan agama masing-masing. Dalam undang-undang Pendidikan nomor 20, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Secara bahasa, pendidikan berasal dari bahasa Yunani, “paedagogie” yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak (Ramayulis, 1994:1). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan secara terminologi dapat diartikan sebagai pembinaan, pembentukan, pengarahan, pencerdasan, pelatihan yang diajukan kepada semua anak didik secara formal maupun non formal dengan tujuan membentuk anak didik yang cerdas, berkepribadian, memiliki keterampilan atau keahlian tertentu sebagai bekal dalam kehidupannya di masyarakat. Secara formal, pendidikan adalah pengajaran (Hasan Basri, 2009:53). Di dalam konteks keislaman, terdapat beberapa istilah yang sering digunakan sebagai arti pendidikan, diantaranya tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib.

1.      Tarbiyah (mendidik)

      Kata tarbiyah berasal dari Masdar رَبَّى – يُرَبِّي – تَرْبِيَةً  yang memiliki arti mendidik. Tarbiyah merupakan proses penyampian sesuatu batas kesempurnaan yang dilakukan secara setahap demi setahap. Tarbiyah sebagai proses menumbuhkan sesuatu secara setahap dan dilakukan sesuai pada batas kemampuan (Ramayulis, 1994: 2)

2.      Ta’lim (pengajaran)

      Kata ta’lim berasal dari Masdar عَلَّمَ - يُعَلِّمُ - تَعْلِيْمًا  yang memiliki arti mengajar atau pengajaran. Ta’lim secara istilah berarti pengajaran yang bersifat pemberian atau penyampian pengertian, pengetahuan. dan ketrampilan. Ta’lim merupakan proses pemberian pengatahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, sehingga diri manusia itu menjadi suci atau bersih dari segala kotoran sehingga siap menerima hikmah dan mampu mempelajari hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya (Heri Gunawan, 2024:4).

3.      Ta’dib(mengajarkan sopan santun)

Kata ta’dib berasal dari Masdar اَدَّبَ – يُؤَدِّبُ – تَأْدِيْبًا  yang artinya mengajarkan sopan santun. Menurut istilah, ta’dib diartikan sebagai proses mendidik yang di fokuskan kepada pembinaan dan penyempurnaan akhlak atau budi pekerti pelajar. Ta’dib merupakan pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan dalam tatanan wujud keberadaan- Nya (Heri Gunawan, 2024:6).

 

                Dalam rangkaian tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib ini manusia dapat mengarah kepada pembentukan etika atau kepribadian manusia yang baik, dan juga bisa menjadi bekal dalam hidup bermasyarakat secara damai dan sejahtera. Pendidikan Islam adalah suatu proses edukatif yang yang mengarah kepada pembentukan akhlak atau kepribadian. Yang dikaitkan dengan nilai-nilai islam, dasar hukum islam bertujuan dapat menjadi pribadi yang menjiwai dan cita-cita islami. Pendidikan islam memiliki pola memahami, menghayati, mengamalkan ajaran-ajaran agama islam secara menyeluruh, serta menjadikan sebagai pandangan hidup demi keselamatan dan kesejahteraan hidup dunia dan akhirat. Pendidikan islam adalah proses dalam membentuk manusia muslim yang mampu mengembangkan potensi yang dimiliki untuk mewujudkan dan merealisasikan tugas dan fungsi sebagai kholifah, baik kepada Tuhan, ataupun sesama makhluk. Teori yang terkonsep dan dikemas oleh tokoh intelektual islam akan menjadi ilmu yang dapat diaplikasikan secara oprasional, praktis dan teoritis. Menurut Imam Al- Ghazali, tujuan pendidikan Islam adalah membentuk insan paripurna baik di dunia maupun di akhirat. Pendidikan ditujukan untuk menjadikan manusia semakin dekat dengan Allah SWT. Sedangkan menurut Ibnu Sina, tujuan pendidikan Islam harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang ke arah perkembangannya yang sempurna meliputi fisik, intelektual, dan budi pekerti.

Sumber dasar utama dalam Pendidikan islam adalah Al-Qur’an dan Sunah. Pendidikan islam dirangkai dan berproses secara sistematis untuk menstransfer nilai-nilai kepada peserta didik dengan berlandaskan ajaran islam. Dengan demikian peserta didik dapat melaksanakan tugas dengan baik sesuai nilai keislaman. Secara esensial konsep Pendidikan islam ini tidak lepas dari dasar utamanya yaitu Al-Qur’an dan sunah. Yang ditemukan dan dikemas dalam ilmu-ilmu agama oleh tokoh intelektual islam. Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam adalah untuk mewujudkan keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara: (1) hubungan manusia dengan Allah SWT; (2) hubungan manusia dengan dirinya sendiri; (3) hubungan manusia dengan sesama manusia; (4) dan hubungan manusia dengan makhluk lain dan lingkungan alamnya. Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam untuk mewujudkan keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara empat hubungan yang telah disebut di atas, tercakup dalam pengelompokkan kompetensi dasar kurikulum PAI dan Budi Pekerti yang tersusun dalam beberapa materi pelajaran baik Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah dan Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah (M.Roqib, 2009).

 

KESIMPULAN

Pendidikan islam memiliki peran penting untuk membentuk etika tingkah laku manusia terutama dengan peserta didik. Pendidikan islam sangat mendukung untuk di-era seperti saat ini. Tanpa Pendidikan islam manusia akan sulit mengenal Tuhan semesta alam.

 

DAFTAR PUTAKA

Hasan Basri, 2009, Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: CV Pustaka Setia.

Heri Gunawan, 2014, Pendidikan Islam Kajian Teoretis dan Pemikiran Tokoh, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

M. Roqib, 2009, Ilmu Pendidikan Islam, LKIS: Yogyakarta.

Ramayulis, 1994, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: KALAM MULIA

Republik Indonesia. 2003. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

 

Model-Model Retorika

 Model-Model Retorika A. Pendahuluan a. Latar Belakang Retorika, sebagai seni persuasi, telah memainkan peran penting dalam peradaban manusi...